Kalau ada yang nanya, "Kuliah di mana?" Aku pasti akan menjawab, "Kimia UGM" Bangga, mungkin. Karena sudah ada image bahwa UGM adalah kampus paling top se-Jogja. Tapi bisa jadi penanya langsung mencibir, karena aku memang masuk di jurusan yang ngga bergengsi. Tapi masih mending kan kimia UGM daripada yang lain… hehehe. Tapi bisa juga jadi sial masuk UGM, karena makin hari makin banyak aja masalah di UGM, terutama masalah biaya. Tapi masalah sebenarnya bukanlah pertanyaan dan jawaban tadi. Sebenarnya ngga jadi masalah, ketika kuliah di mana pun, jurusan apa pun, karena pada hakikatnya adalah proses untuk menimba ilmu. Ilmu, seperti yang seseorang bilang beberapa waktu lalu, yang utama dan yang terpenting adalah ilmu agama. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain, entah itu kimia, fisika, psikologi, bahkan astronomi atau antropologi sekalipun, sebenarnya hanya menjadi sarana untuk menimba ilmu-ilmu agama.Jadi, tetap yang nomor satu adalah belajar ilmu agama. Menurut uraian di atas, maka akan menjadi salah bila lebih mementingkan ilmu-ilmu lain dibanding ilmu agama. Akan menjadi salah bila hati lebih tergerak untuk ngutak-atik ilmu lain, selain ilmu agama. Akan jadi salah pula kalau mengesampingkan bahkan melupakan ilmu agama. Yang benar adalah mengutamakan ilmu agama daripada ilmu-ilmu yang lain. Menggunakan ilmu lain untuk memperkaya ilmu agama. Caranya? Gampang teorinya, tapi ngga gampang pelaksanaannya. Misal nih, di kimia banyak membahas masalah atom atau mungkin molekul suatu zat. Atom itu kan kecil sekali, bahkan ada yang bilang kalau atom itu bagian terkecil dari suatu zat. Tapi belakangan pendapat ini disanggah oleh ahli-ahli lain yang menemukan bahwa atom masih dapat dibagi lagi. Nah lo… Tentunya, saat belajar tentang atom, tidak membuat kita melulu bicara soal energi, reaksi, atau yang lain yang berhubungan dengan atom itu sendiri. Mungkin dengan memusingkan hitungan-hitungan atau pun mekanisme-mekanisme reaksi dari atom-atom suatu zat, malah justru membuat kita lupa bicara tentang point pentingnya. Kalau disebutkan ilmu agama adalah dasar dari segala ilmu, maka harusnya setiap mempelajari ilmu tidak boleh mengesampingkan ilmu agama. Saat belajar atom, bisa menjadi pengingat bahwa kita pun bernasib sama dengan sang atom. Kalau atom adalah materi terkecil dari suatu zat, maka kita pun punya posisi yang sama dengan atom bila dibandingkan dengan Sang Maha Besar. Jadi sambil belajar bisa ingat juga dengan hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Ini point pentingnya. Ngga cuma itu. Kalau dikaitkan bakal banyak banget hal-hal di kimia yang bisa jadi perenungan. Dari cara suatu atom "berinteraksi" dengan atom lain. mengapa untuk atom ini tidak mengadakan ikatan dengan atom itu, tentang bagaimana si atom suatu unsur dapat menjadi stabil dengan menempati energi tertentu. Semua bisa dianalogikan dengan kehidupan manusia. Tentang interaksi sesama manusia, tentang hal-hal yang membuat manusia menjadi stabil. Pokoknya banyak hal bisa jadi bahan renungan. Intinya, semua kembali ke satu hal. Sebagai pengingat bahwa kita adalah manusia, dan ada kekuasaan yang lebih besar, yaitu Sang Maha. Tapi susah juga ya untuk sekedar mengingat adanya hal-hal "kecil" yang sebetulnya justru tidak boleh terlupakan. Ya, seperti uraian di atas tadi. Kesannya kalau belajar kimia, yang terpikir adalah ilmu ini terpisah dari ilmu agama. Yang terbayang kalau mendengar tentang ilmu agama adalah masalah sholat, puasa, zakat, haji, dll. Padahal justru dengan belajar ilmu-ilmu selain agama harus lebih mengingatkan kita tentang hakikat hidup di dunia.
Jumat, 16 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar